MAKALAH BERKARYA SENI RUPA TRI MATRA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Pramesti (2012:12) Seni berkaitan
dengan indah dan dilakukan oleh manusia. Seperti
dijelaskan oleh Sumardjo (2000:45) bahwa “ apa
yang disebut seni memang merupakan suatu wujud
yang terindera. Karya seni merupakan sebuah benda atau artefak yang dapat dilihat, didengar, atau dilihat
sekaligus didengar (visual, audio, dan
audio-visual), seperti lukisan, musik, dan teater. Tetapi yang disebut seni ini berada diluar benda seni sebab
seni itu berupa nilai. Apa yang disebut indah,
baik, adil, sederhana, dan bahagia itu adalah nilai. Apa yang oleh seseorang
disebut indah dapat tidak indah bagi orang lain.”
Seperti yang dikutip oleh Pramesti (2012:15). Wayang bukan hanya
merupakan pergelaran yang bersifat menghibur, melainkan juga sarat akan
nilai-nilai falsafah kehidupan. Sebab, setiap tokoh dalam cerita wayang
merupakan cerminan dari sikap, watak, dan karakter manusia secara umum. Ada
yang baik dan jahat, ada kebatilan dan keburukan, ada kasih sayang, cinta,
hasut, serakah, dan lain-lain.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
cara membuat topeng dari kertas ?
2.
Bagaimana
cara membuat wayang dari suket ?
C.
Tujuan
1. Mengetahui cara membuat topeng dari kertas
2. Mengetahui cara membuat wayang dari suket
BAB II
PEMBAHASAN
A. Membuat Topeng Kertas
a. Topeng dari
kertas karton
Media
membuat topeng bermacam-macam bisa dari kayu, tanah liat, bubur kertas atau
kertas karton. Disini kita akan mencoba membuat topeng dengan media kertas
karton dengan teknik melipat, memilin dan menggunting. Pembuatan topeng akan
melatih kita untuk membuat karakter wajah manusia ada yang lucu, galak,
bengong, judes dlsb. Pengerjaannya sangat mudah hanya memerlukan ketekunan dan
kesabaran, berikut akan diuraikan cara pembuatannya:
Bahan dan Alat :
1. Kertas Karton
2. Koran Bekas
3. Pewarna bisa dipilih salah satu seperti: Cat Air/ Cat Poster/ Cat untuk styroform
4. Asesories seperti : benang, kain, ijuk, renda dlsb
Alat-alat:
1. Gunting
2. Cuter
3. Hecter
Bahan dan Alat :
1. Kertas Karton
2. Koran Bekas
3. Pewarna bisa dipilih salah satu seperti: Cat Air/ Cat Poster/ Cat untuk styroform
4. Asesories seperti : benang, kain, ijuk, renda dlsb
Alat-alat:
1. Gunting
2. Cuter
3. Hecter
Cara Pembuatan
1.Buatlah sketsa dasar wajah
berbentuk Oval pada sehelai kertas karton kemudian pada sekeliling sisinya beri
tanda garis titik 8 bagian.
2. Gunting, lipat dan tekuk sketsa dasar wajah berbentuk oval kemudian di hecter satu persatu sehingga membentuk seperti gambar di atas
3.
Gunting kertas koran dengan ukuran kecil-kecil kemudian tempelkan pada bentuk
dasar wajag topeng, maksudnya agar bentuk dasar topeng dari kertas karton
menjadi keras
4.
Bentukdasar topeng yang sudah selesai di tempeli guntingan kertas koran
5.
Buatlah bagian-bagiab wajah topeng seperti alis, hidung, pelipis, dan mulut
dengan teknik melipat, menggunting dan menempel. Caranya sama dengan cara
membuat bentuk dasar topeng seperti gambar no.1 dan 2 hanya saja ukurannya
lebih kecil. Sebelumnya ukur dulu posisi mata, hidung dan mulut sesuai
wajah kita kemudian dilubangi.
6.
Setelah bagian-bagian wajah selesai ditempel pada bentuk dasar topeng
tempelkan kembali guntingan kertas koran ke seluruh bagian wajah topeng,
sehingga topeng menjadi lebih keras
7.
Selanjutnya wajah topeng tinggal diberi warna sesuka hati kita, dapat
menggunakan cat air untuk styroform, cat poster, cat kayu dlsb
b. Membuat Topeng dari Bubur Kertas
Membuat topeng bubur kertas perlu ketelitian. Langsung saja
berikut ini akan dipaparkan pembuatan topeng dari bubur kertas.
Bahan:
- Bubur kertas
- Cetakan
- Tepung
- Lem
- Cat
Langkah-langkah:
- Kumpulkan koran atau kertas bekas. Lalu kertas masukan ke ember di rendam dengan air. Usahkan rendam kertas dalam waktu lama, hal ini supaya kertas dapat lembek. Ini dapat dirasa dari baunya yang luar biasa
- Buatlah cetakan topeng, semisal dari tanah tanah liat yang mudah dibentuk. Bisa dicetak di dalam maupun di luar cetakan.
- Siapkan tepung kanji dan air panas, sesuaikan dengan kebutuhan. Tiriskan kertas, lalu dicampur semua bahan (kertas, air panas dan tepung) secara merata dan diaduk supaya tektur terlihat lembut. Selanjutnya silahkan tempelkan pada cetakan yang telah disiapkan. Sebelum dijemur, sebaiknya antara cetakan dan bubur kertas diberi tisu atau lainnya yang gunanya agat tidak lengket saat mengangkat hasil cetakan.
- Setelah selesai lalu di jemur. Nah...kalau sudah kering, tinggal proses pengecatan. (Saat pengecataan: Kertas itu bersifat menyerap air. Biar menghemat cat, usahakan sebelum di cat permukaan topeng bisa dipoles dengan lem. Dan nantinya hasilnya akan lebih mengkilap).
B.
Wayang dari Suket
Wayang sudah dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar
1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaa animisme
berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang
diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Wayang merupakan seni tradisional
Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan Wayang itu
senidiri telah diakui oleh UNESCO pada
tanggan 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan
yang indah dan sangat berharga.
Wayang
suket merupakan bentuk tiruan dari
berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket adalah
seni pertunjukan multimedia yang merupakan eksplorasi inovatif dari seni
pertunjukan yang dipadu dengan teater, tari dan musik. Selain itu, lakon dalam
wayang suket juga tidak selalu diceritakan oleh dalang melalui karakter wayang,
tapi dimainkan juga oleh personal lainnya dalam bentuk teater dan tari. Dialog
bukan Cuma milik dalang, tapi juga terjadi di antara pemain dan dalang.
Seniman asal Tegal,Slamet Gundono dikenal sebagai tokoh yang
berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan panggung.
Bahkan jika menyebut wayang suket,
sekarang sudah lekat dengan pertunjukan wayangnya. Slamet Gundono adalah lulusan STSI Pedalangan, Wayang Suket Slamet Gundono awalnya bermediakan wayang yang
terbuat dari suket, namun Slamet Gundono lebih mengandalkan unsur teatrikal dan
kekuatan berceritera. Dalam pementasan wayang suketnya, Slamet Gundono
menggunakan beberapa alat musik yang teridiri dari gamelan, alat petik, tiup
dan beberapa alat musik tradisional lainnya. Slamet juga dibantu beberapa pengrawit, penari
yang merangkap jadi pemain, untuk melengkapi pertunjukannya. Seting panggungnya
berubah-ubah sesuai tema yang ditentukan.
Media bertutur Slamet Gundono tidak
hanya wayang suket tetapi juga wayang kulit dan kadang memakai dedaunan untuk
dijadikan tokoh wayang.
Kehebatan bertutur (pendongeng)
dalang satu ini sudah tidak diragukan lagi. Banyak kalangan Dalang muda yang
memuji kemampuan bertutur Slamet Gundono. Misalnya Ki Sigit Ariyanto; "
Jangkan dengan wayang, dengan pecahan genteng atau serpihan plastik Gundono
dapat mendalang dengan baik". Bahkan menurut Ki Bambang Asmoro, dengan
media yang ada, Slamet Gundono bisa menuntun penonton ke dalam imajinasi yang
lebih dalam, sehingga roh atau esensi wayang sebagai pertunjukan bayangan
"wewayanganing urip" menjadi lebih bermakna dan multi tafsir.
Rumput,
bahan dari karakter wayang suket, mengandung filosofi mengenai kehidupan,
karena walaupun hidup di bawah dan kerap diinjak, bahkan dipangkas, tetap dapat
bertahan hidup. Tumbuhnya rumput juga selalu diikuti keberadaan unsur alam
lain, seperti tanah, air, udara dan matahari. Hal ini juga memberi illustrasi
terhadap nasib pertunjukan wayang, ketika sempat menjadi tontonan mewah, untuk
kalangan ‘istana’, wayang tetap dinikmati dan dipentaskan masyarakat dipedesaan
kebanyakan. Salah satunya adalah dengan membuat wayang dari rumput, seperti
wayang suket ini. Banyak pengamat menyebut wayang suket sebagai symbol
semangat tradisi yang terus hidup, bahkan di tengah modernitas dengan tetap
mencipta kreasi baru tanpa kehilangan orisinalitas.
Tidak heran jika kemudian lakon dalam pertunjukan wayang
suket selalu dekat dengan masyarakat, sarat dengan humor- humor cerdas dan
padat dengan kandungan renungan filosofis tentang kehidupan.
·
Teknik Pembuatan Wayang
Suket
Sesuai dengan namanya, maka
bahan utama yang digunakan dalam pembuatan wayang
rumput (wayang suket)
adalah tanaman rumput
terutama rumput yang berukuran panjang
dan telah dikeringkan atau dijemur dahulu sebelum digunakan. Jenis rumput dengan ciri seperti
itu
dipilih karena lebih mudah dibentuk dan dianyam, sehingga tidak mudah terputus dan tidak perlu
adanya sambungan ditengah-tengah anyaman. Jenis rumput yang
bisa digunakan dalam membuat wayang
rumput (wayang suket) diantaranya rumput gajah, rumput
mendong, serta jerami.
Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan kering dijalin
lalu dirangkai (dengan melipat) atau dianyam hingga membentuk
figur serupa dengan wayang kulit. Simpul yang biasa digunakan dalam pembuatan wayang
suket diantaranya simpul hidup, simpul mati, simpul kepang, serta simpul lainnya yang dapat ditambahkan sesuai
bentuk yang
diinginkan. Untuk bentuknya sendiri juga berbeda-beda,
dari bentuk yang
paling sederhana hingga bentuk yang agak rumit.
Karena bahanya dari rumput, maka wayang
suket ini biasanya
memiliki sifat tidak dapat bertahan lama.
Wayang Rumput (wayang suket) yang digunakan
untuk
pertunjukan atau pergelaran, biasanya ditambahkan potongan bambu yang
disisipkan dibagian tengah wayang, yang fungsinya agar wayang
tersebut dapat ditancapkan di batang pisang (gedogan) dan juga agar lebih
mudah dipegang untuk digerak-gerakan pada saat sedang
dimainkan oleh dalang. Namun batang
pisang tersebut hanya kadang- kadang saja digunakan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Karya seni merupakan sebuah benda atau
artefak yang dapat dilihat, didengar, atau dilihat
sekaligus didengar (visual, audio, dan
audio-visual), seperti lukisan, musik, dan teater. Tetapi yang disebut seni ini berada diluar benda seni sebab
seni itu berupa nilai. Apa yang disebut indah,
baik, adil, sederhana, dan bahagia itu adalah nilai. Apa yang oleh seseorang
disebut indah dapat tidak indah bagi orang lain.”
Seperti yang dikutip oleh
Pramesti (2012:15). Wayang bukan hanya merupakan pergelaran yang bersifat
menghibur, melainkan juga sarat akan nilai-nilai falsafah kehidupan.
B.
Saran
Dalam hal
ini, kami selaku penulis hanya bisa memberikan sedikit gambaran secara global
tentang uraian makalah ini. Namun kami juga menyadari adanya kekurangan makalah
ini, jadi kami mengharapkan agar Bapak Dosen Pengajar serta teman-teman tidak
hanya membaca makalah ini, tetapi juga
membaca makalah atau buku-buku sejenisnya yang lain, yang lebih baik lagi. Dan
kami penulis mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah kami untuk
penyempurnaan pembuatan makalah selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar