Senin, 09 November 2015

MAKALAH BERKARYA SENI RUPA TRI MATRA




MAKALAH BERKARYA SENI RUPA TRI MATRA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menurut Pramesti (2012:12) Seni berkaitan dengan indah dan dilakukan oleh manusia. Seperti dijelaskan oleh Sumardjo (2000:45) bahwa “ apa yang disebut seni memang merupakan suatu wujud yang terindera. Karya seni merupakan sebuah benda atau artefak yang dapat dilihat, didengar, atau dilihat sekaligus didengar (visual, audio, dan audio-visual), seperti lukisan, musik, dan teater. Tetapi yang disebut seni ini berada diluar benda seni sebab seni itu berupa nilai. Apa yang disebut indah, baik, adil, sederhana, dan bahagia itu adalah nilai. Apa yang oleh seseorang disebut indah dapat tidak indah bagi orang lain.”
Seperti yang dikutip oleh Pramesti (2012:15). Wayang bukan hanya merupakan pergelaran yang bersifat menghibur, melainkan juga sarat akan nilai-nilai falsafah kehidupan. Sebab, setiap tokoh dalam cerita wayang merupakan cerminan dari sikap, watak, dan karakter manusia secara umum. Ada yang baik dan jahat, ada kebatilan dan keburukan, ada kasih sayang, cinta, hasut, serakah, dan lain-lain.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara membuat topeng dari kertas ?
2.      Bagaimana cara membuat wayang dari suket ?

C.    Tujuan
1.   Mengetahui cara membuat topeng dari kertas
2.   Mengetahui cara membuat wayang dari suket



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Membuat Topeng Kertas

a.      Topeng dari kertas karton
Media membuat topeng bermacam-macam bisa dari kayu, tanah liat, bubur kertas atau kertas karton. Disini kita akan mencoba membuat topeng dengan media kertas karton dengan teknik melipat, memilin dan menggunting. Pembuatan topeng akan melatih kita untuk membuat karakter wajah manusia ada yang lucu,   galak, bengong, judes dlsb. Pengerjaannya sangat mudah hanya memerlukan ketekunan dan kesabaran, berikut akan diuraikan cara pembuatannya:

Bahan dan Alat :
1. Kertas Karton
2. Koran Bekas
3. Pewarna bisa dipilih salah satu seperti: Cat Air/ Cat Poster/ Cat untuk styroform
4. Asesories seperti : benang, kain, ijuk, renda dlsb

Alat-alat:
1. Gunting
2. Cuter
3. Hecter
Cara Pembuatan

  1.Buatlah sketsa  dasar wajah berbentuk Oval pada sehelai kertas karton kemudian pada sekeliling sisinya beri tanda garis titik 8 bagian.

2. Gunting, lipat dan tekuk sketsa dasar wajah berbentuk oval kemudian di hecter satu persatu sehingga membentuk seperti gambar di atas
                                                                                     

3. Gunting kertas koran dengan ukuran kecil-kecil kemudian tempelkan pada bentuk dasar wajag topeng, maksudnya agar bentuk dasar topeng dari kertas karton menjadi keras


4. Bentukdasar topeng yang sudah selesai di tempeli guntingan kertas koran 


5. Buatlah bagian-bagiab wajah topeng seperti alis, hidung, pelipis, dan mulut dengan teknik melipat, menggunting dan menempel. Caranya sama dengan cara membuat bentuk dasar topeng seperti gambar no.1 dan 2 hanya saja ukurannya lebih kecil. Sebelumnya ukur dulu posisi mata, hidung dan mulut sesuai wajah kita kemudian dilubangi. 


6. Setelah bagian-bagian  wajah selesai ditempel pada bentuk dasar topeng tempelkan kembali guntingan kertas koran ke seluruh bagian wajah topeng, sehingga topeng menjadi lebih keras


7. Selanjutnya wajah topeng tinggal diberi warna sesuka hati kita, dapat menggunakan cat air untuk styroform, cat poster, cat kayu dlsb

b. Membuat Topeng dari Bubur Kertas

Membuat topeng bubur kertas perlu ketelitian. Langsung saja berikut ini akan dipaparkan pembuatan topeng dari bubur kertas.
Bahan:
  1. Bubur kertas
  2. Cetakan
  3. Tepung
  4. Lem
  5. Cat
Langkah-langkah:
  1. Kumpulkan koran atau kertas bekas. Lalu kertas masukan ke ember di rendam dengan air. Usahkan rendam kertas dalam waktu lama, hal ini supaya kertas dapat lembek. Ini dapat dirasa dari baunya yang luar biasa
  2. Buatlah cetakan topeng, semisal dari tanah tanah liat yang mudah dibentuk. Bisa dicetak di dalam maupun di luar cetakan.
  3. Siapkan tepung kanji dan air panas, sesuaikan dengan kebutuhan. Tiriskan kertas, lalu dicampur semua bahan (kertas, air panas dan tepung) secara merata dan diaduk supaya tektur terlihat lembut. Selanjutnya silahkan tempelkan pada cetakan yang telah disiapkan. Sebelum dijemur, sebaiknya antara cetakan dan bubur kertas diberi tisu atau lainnya yang gunanya agat tidak lengket saat mengangkat hasil cetakan.
  4. Setelah selesai lalu di jemur. Nah...kalau sudah kering, tinggal proses pengecatan. (Saat pengecataan: Kertas itu bersifat menyerap air. Biar menghemat cat, usahakan sebelum di cat permukaan topeng bisa dipoles dengan lem. Dan nantinya hasilnya akan lebih mengkilap).

B.     Wayang dari Suket
          Wayang sudah dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaa animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan Wayang itu senidiri telah diakui oleh UNESCO pada tanggan 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga.
Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket adalah seni pertunjukan multimedia yang merupakan eksplorasi inovatif dari seni pertunjukan yang dipadu dengan teater, tari dan musik. Selain itu, lakon dalam wayang suket juga tidak selalu diceritakan oleh dalang melalui karakter wayang, tapi dimainkan juga oleh personal lainnya dalam bentuk teater dan tari. Dialog bukan Cuma milik dalang, tapi juga terjadi di antara pemain dan dalang.
Seniman asal Tegal,Slamet Gundono dikenal sebagai tokoh yang berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan panggung.
Bahkan jika menyebut wayang suket, sekarang sudah lekat dengan pertunjukan wayangnya. Slamet Gundono adalah lulusan STSI Pedalangan, Wayang Suket Slamet Gundono awalnya bermediakan wayang yang terbuat dari suket, namun Slamet Gundono lebih mengandalkan unsur teatrikal dan kekuatan berceritera. Dalam pementasan wayang suketnya, Slamet Gundono menggunakan beberapa alat musik yang teridiri dari gamelan, alat petik, tiup dan beberapa alat musik tradisional lainnya. Slamet juga dibantu beberapa pengrawit, penari yang merangkap jadi pemain, untuk melengkapi pertunjukannya. Seting panggungnya berubah-ubah sesuai tema yang ditentukan.
Media bertutur Slamet Gundono tidak hanya wayang suket tetapi juga wayang kulit dan kadang memakai dedaunan untuk dijadikan tokoh wayang.
Kehebatan bertutur (pendongeng) dalang satu ini sudah tidak diragukan lagi. Banyak kalangan Dalang muda yang memuji kemampuan bertutur Slamet Gundono. Misalnya Ki Sigit Ariyanto; " Jangkan dengan wayang, dengan pecahan genteng atau serpihan plastik Gundono dapat mendalang dengan baik". Bahkan menurut Ki Bambang Asmoro, dengan media yang ada, Slamet Gundono bisa menuntun penonton ke dalam imajinasi yang lebih dalam, sehingga roh atau esensi wayang sebagai pertunjukan bayangan "wewayanganing urip" menjadi lebih bermakna dan multi tafsir.
Rumput, bahan dari karakter wayang suket, mengandung filosofi mengenai kehidupan, karena walaupun hidup di bawah dan kerap diinjak, bahkan dipangkas, tetap dapat bertahan hidup. Tumbuhnya rumput juga selalu diikuti keberadaan unsur alam lain, seperti tanah, air, udara dan matahari. Hal ini juga memberi illustrasi terhadap nasib pertunjukan wayang, ketika sempat menjadi tontonan mewah, untuk kalangan ‘istana’, wayang tetap dinikmati dan dipentaskan masyarakat dipedesaan kebanyakan. Salah satunya adalah dengan membuat wayang dari rumput, seperti wayang suket ini. Banyak pengamat menyebut wayang suket sebagai symbol semangat tradisi yang terus hidup, bahkan di tengah modernitas dengan tetap mencipta kreasi baru tanpa kehilangan orisinalitas.
Tidak heran jika kemudian lakon dalam pertunjukan wayang suket selalu dekat dengan masyarakat, sarat dengan humor- humor cerdas dan padat dengan kandungan renungan filosofis tentang kehidupan.          
·         Teknik Pembuatan Wayang Suket
Sesuai dengan namanya, maka bahan utama yang digunakan dalam pembuatan wayang rumput (wayang suket) adalah tanaman rumput terutama rumput yang berukuran panjang dan telah dikeringkan atau dijemur dahulu sebelum digunakan. Jenis rumput dengan ciri seperti itu dipilih karena lebih mudah dibentuk dan dianyam, sehingga tidak mudah terputus dan tidak perlu adanya sambungan ditengah-tengah anyaman. Jenis rumput yang bisa digunakan dalam membuat wayang rumput (wayang suket) diantaranya rumput gajah, rumput mendong, serta jerami.
Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan kering dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) atau dianyam hingga membentuk figur serupa dengan wayang kulit. Simpul yang biasa digunakan dalam pembuatan wayang suket diantaranya simpul hidup, simpul mati, simpul kepang, serta simpul lainnya yang dapat ditambahkan sesuai bentuk yang diinginkan. Untuk bentuknya sendiri juga berbeda-beda, dari bentuk yang paling sederhana hingga bentuk yang agak rumit. Karena  bahanya  dari  rumput,  maka  wayang  suket  ini  biasanya memiliki sifat tidak dapat bertahan lama.
Wayang  Rumput  (wayang  suket)  yandigunakan  untuk pertunjukan atau pergelaran, biasanya ditambahkan potongan bambu yang disisipkan dibagian tengah wayang, yang fungsinya agar wayang tersebut dapat ditancapkan di batang pisang (gedogan) dan juga agar lebih mudah dipegang untuk digerak-gerakan pada saat sedang dimainkan oleh dalang. Namun batang pisang tersebut hanya kadang- kadang saja digunakan.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Karya seni merupakan sebuah benda atau artefak yang dapat dilihat, didengar, atau dilihat sekaligus didengar (visual, audio, dan audio-visual), seperti lukisan, musik, dan teater. Tetapi yang disebut seni ini berada diluar benda seni sebab seni itu berupa nilai. Apa yang disebut indah, baik, adil, sederhana, dan bahagia itu adalah nilai. Apa yang oleh seseorang disebut indah dapat tidak indah bagi orang lain.”
Seperti yang dikutip oleh Pramesti (2012:15). Wayang bukan hanya merupakan pergelaran yang bersifat menghibur, melainkan juga sarat akan nilai-nilai falsafah kehidupan.

B.     Saran
            Dalam hal ini, kami selaku penulis hanya bisa memberikan sedikit gambaran secara global tentang uraian makalah ini. Namun kami juga menyadari adanya kekurangan makalah ini, jadi kami mengharapkan agar Bapak Dosen Pengajar serta teman-teman tidak hanya membaca  makalah ini, tetapi juga membaca makalah atau buku-buku sejenisnya yang lain, yang lebih baik lagi. Dan kami penulis mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah kami untuk penyempurnaan pembuatan makalah selanjutnya.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar